Arie's posts with tag: politik

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag politik
Link(Sedikit) Antara Pemilu Kini dan IslamFeb 27, '08 3:01 AM
for everyone
Link: http://www.eramuslim.com/ustadz/eki/8226062947-pendanaan-dalam-pilkada...


Seharusnya dalam Islam untuk menjadi pimpinan tidak ditentukan berdasarkan berapa uang yang dimiliki. Sayangnya, kita sekarang hidup di zaman yang apa-apa serba uang, sehingga untuk menjadi pimpinan pun harus pakai uang.

Logika pejabat harus punya uang ini sebenarnya logika yahudi. Dahulu ketika bangsa yahudi minta kepada Allah agar di antara mereka ada yang dijadikan raja (penguasa), maka ketika Allah sudah tentukan, rupanya orangnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Ternyata dia miskin tidak punya uang.

Dalam logika yahudi, bagaimana mungkin orang miskin tak beruang bisa jadi penguasa.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah: 247)

Kelemahan sistem ini adalah tiap pejabat akan selalu dalam keadaan berhutang dan berpikir bagaimana bisa membayar hutang-hutangnya itu. Sayangnya, yang terjadi lebih terjadi adalah kongkalikong antara pejabat dan penguasaha. Sang pejabat merasa berhutang kepada pengusaha, maka apa pun yang diminta oleh si penguasaha, si pejabat pun akan berupaya meluluskannya. Bahkan meski terkadang tidak masuk akal atau merugikan masyarakat.

Di masa khilafah Islamiyah rasyidah, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali menjadi khalifah, tidak ada sedikit pun biaya yang dibutuhkan. Sebab kriteria pemimpin di masa itu adalah murni pemimpin, yaitu orang yang paling bertaqwa, paling mengerti Al-Quran, paling mengerti sunnah dan paling faqih dalam urusan mengatur umat. Aklamasi para shahabat memilih para khulafa' rasyidah itu kini sudah tinggal sejarah.

Karena itu kalau pun kita harus masuk ke dalam sistem jahiliyah ini, pastikan bahwa si pengusaha yang akan jadi sponsor dalam pilkada tidak akan minta macam-macam, yang sekiranya akan merugikan rakyat.

Malah kami berpikir, kalau memang hukum dan penegakannya hanya bisa didapat lewat menjadikan salah seorang kader muslim ini menjadi pejabat di suatu tempat, biayailah dari dana sedekah (baitulmal) yang tidak mengikat. Sedekah itu bisa dikumpulkan oleh umat Islam yang prihatin dengan keadaan negara dan para pejabatnya yang carut marut, lalu dengan rasa tsiqah dan amanah, dana yang dikumpulkan oleh umat itu dijadikan sebagai biaya untuk kampanye dan lain sebagainya.

Maka si pejabat ini pun tidak punya hutang apa-apa dengan para pengusaha, yang umumnya jarang yang bermoral. Toh si pejabat itu naik ke pentas kekuasaan dengan uang sedekah umat Islam yang berpatungan bahu membahu demi tegaknya sistem yang bersih.

Tentu saja si pejabat juga harus tahu diri, bahwa dirinya bukanlah penguasa selamanya. Kalau umumnya rakyat masih harus antri minyak tanah, maka alangkah indahnya kalau isteri si pejabat ini pun ikut juga antri minyak tanah. Kalau rakyat masih naik kereta api kambing, maka pejabat ini pun juga harus naik kereta kambing itu.

Jangan sampai rakyat hidup susah, tapi pejabatnya enak-enakan menginap di hotel berbintang, padahal duit dari hasil memeras keringat rakyat. Pejabat ini harus berpikir bahwa dirinya dan kedudukannya adalah waqaf di jalan dakwah. Semua dibiayai oleh dana sedekah umat Islam. Maka semua itu nanti akan ditanya dan dipertanggung-jawabkan di akhirat.

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (QS. At-Takatsur: 8)

Bukankah khalifah Umar bin al-Khattab sekalipun hanya tertidur di atas tanah di bawah pohon? Beliau tidak punya istana, apalagi pengawal. Tapi kesaksian seorang utusan Romawi tatkala melihatnya tidur di bawah pohon tanpa pengawalan sangat menarik kita ingat: 'Adalta fa amanta fa nimta" Kamu telah berlaku adil, maka kamu aman dan kamu bisa nyenyak tidur."

Bukankah dahulu Umar bin Abdul Aziz telah menjual semua kereta kuda kerajaan yang konon terbuat dari emas, sebagai fasilitas yang disediakan negara untuk sang khalifah. Hasil penjualannya diserahkan kepada baitulmal.

Maka nanti kalau anda sudah jadi pejabat, pastikan anda tidak naik mobil kecuali yang paling murah, tanpa AC, dan mobil bekas. Karena rakyat anda umumnya malah masih berjalan kaki atau menggenjot sepeda.

Pastikan anda tidak menghabiskan uang rakyat sekedar untuk membeli safari dan jas, sebab khalifah Umar bin Al-Khattab hanya punya 1 potong baju yang tambalannya 40 buah, padahal luas wilayah kekuasaannya meliputi 3 imperium dunia.

Pastikan anda tidak tinggal di rumah dinas yang dibangun dengan uang rakyat, sementara masih ada gelandangan yang tidur beratapkan langit dan beralaskan bumi.

Pastikan anda tidak tidur di waktu malam kecuali rakyat anda semua telah kenyang. Sebab khalifah Umar tidak pernah tidur di waktu malam, kecuali beliau telah pastikan semua rakyatnya tidak ada yang kelaparan malam itu.

Dahulu khalifah Umar naik unta bergantian dengan pembantunya ketika berangkat ke Palestina untuk menerima kunci Baitul Maqdis, sehingga ketika sampai di pintu gerbang negeri itu, orang-orang malah mengelu-elukan pembantunya, yang kebetulan sedang dapat giliran naik unta dan Umar yang menuntunnya.

Ketika Hasan Al-Banna bepergian untuk berdakwah, konon ada orang yang mengenalinya naik kereta kelas tiga. Sebagai pemimpin tertinggi jamaah Islam terbesar di dunia, rasanya kurang pantas kalau tokoh itu naik kereta kelas kambing. Ada orang bertanya, mengapa naik kelas 3? Beliau hanya tersenyum dan menjawab, karena tidak ada kelas yang lebih rendah lagi.

Yang diperlukan pada hari ini untuk menjadi pejabat bukan program aneh-aneh, rencana yang muluk-muluk. Tapi yang dibutuhkan adalah kesederhanaan, kebersahajaan, keikhlasan dan juga persamaan derajat dengan nasib rakyat yang paling bawah.

Kalau belum bisa mensejahterakan rakyat, maka janganlah hidup dengan gaya sejahtera sendirian. Tapi tanggalkan semua kemewahan dan hiduplah bersahaja seperti rakyat.


*(Selanjutnya baca sendiri di link tersebut hehe..)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help