Arie's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog EntryAngin yang Meninggalkan Duka (Cerpen)Jan 2, '06 10:23 AM
for everyone

Bandung, Senin 17 Januari 2005
Di Rumah jam 8 pagi, langit cerah sedikit berawan

"Waaa..!! telat neh mo ke kantor!!" Aku cepat-cepat bangun dari pembaringan. Sial! gara-gara tadi udah shubuh tidur lagi, jadi telat deh ke kantor. Mandi pas foto lalu cepat-cepat pake sepatu. Eit.. kemeja ketinggalan, ampir aja pergi pake kaos doang.
Motor ku bawa keluar. Honda grand tahun 1980-an, lumayan, tenaganya masih mantaab.
Ku starter.. dan..

"Lho??? kok nggak bunyi??" kucoba lagi starter pake kaki kuat-kuat. "Waaa..!! nggak bisa juga!!". Akhirnya dengan muka menekuk aku tuntun motor tua itu ke bengkel deket rumah, jaraknya sekitar 200m.

Tampak Mas Jojo sedang ngutak-ngatik motor GL di bengkelnya. Aku kenal dengan dia dari kakakku yang memang sering benerin motor ke dia.

"Mas, tolong nih motor saya.. rusak lagi.. nggak bisa nyala." ujarku. Mas Jojo tersenyum ramah, lalu membawa motorku masuk ke dalam bengkel mungilnya.
Bayu, anak semata wayang-nya yang masih kelas 1 SMP, membantu membawakan kunci-kunci. Waktu dia SD kelas 6 masih mengaji di mesjid, dan di tahun itu pula aku terakhir kali mengajar ngaji, sebelum kemudian sibuk kerja dan nggak sempat lagi ngajar mengaji di mesjid. Yah.. abis mau gimana lagi? pergi kerja pagi-pagi pulang sudah malam.

"Bayu nggak sekolah?" aku basa basi. Bayu tersenyum dengan hormat,

"Nggak Kang, kan hari ini libur" Jawabnya, setelah mencium punggung tanganku. Duh.. rupanya kebiasaan itu masih dia lakukan, padahal kami tidak sedang berada di mesjid.

"Oooh.. kirain bolos.." candaku sambil menepuk pundaknya

“Yee.. enak aja!” Timpal Bayu setengah tertawa, ”Masa Bayu bolos. Kan Bapak sudah susah-susah nyari duit buat sekolah Bayu.. “
Mas Jojo hanya tersenyum mendengar kata-kata anak kesayangannya itu. Tapi aku melihat senyum yang lain, seperti senyum yang berat, penuh arti.

“Eh, Kang.. kok nggak ada spionnya?, jangan-jangan motornya mogok gara-gara nggak pake spion!” canda anak itu. Aku hanya terkekeh. Kalau tidak ada ayahnya mungkin sudah kujitak kepalanya.

"Kira-kira sampe jam berapa nih Mas beresnya?" tanyaku, setelah Mas Jojo mengecek motorku.

"Hmm.. mungkin siang, soalnya harus dibuka karburator dulu. Platina juga harus di cek lagi, nggak tau apa masih bisa dipake atau ndak." jawabnya menjelaskan, dengan logat jawa yang khas.

"Waah.. kalau begitu saya tinggal dulu aja ya Mas, jam satu siang nanti saya balik lagi."

"Iya deh.. saya usahain jam segitu sudah beres.." timpalnya, tetap dengan senyumnya yang ramah.

***

Jam 12:15 WIB
Di warung tenda dekat kantor

Kakakku memang baik hehe.., dia mentraktirku makan siang kali ini. Jarang-jarang kita bisa makan siang bareng, padahal tempat kerjanya cukup dekat dengan kantorku.
Soto ayam pesenan kakakku sudah datang, sementara nasi goreng ku belum juga masak.

"Jadi, motor rusak lagi?" ujar kakak sambil menambahkan sambal ke mangkuk soto ayamnya.

"Yup, sekarang aku simpen di bengkelnya Mas Jojo" timpalku

"Mmm.. kakak sudah lama nggak ke bengkel Mas Jojo lagi,.. kamu tahu khan sebabnya?" ujar kakak dengan muka sedikit serius. Aku mengerutkan kening, heran.

"Emang kenapa Kak?"

"Ckckck… kamu emang payah! ga ada perhatiannya sama kondisi lingkungan! Si Mas jojo sekarang sudah Kristen!"

Mataku membesar, aku tak habis pikir.. kaget.

"Apa?? kok bisa??"

"Itulah.. kakak tahunya juga nggak sengaja. Ketika lewat ke bengkelnya hari minggu kok tutup, tahunya setiap hari minggu memang bengkelnya tutup. Selidik punya selidik dia sekarang suka ke gereja jawa di perempatan itu." Kakak menarik napas sejenak.. “Dari kabar yang kakak dengar, usaha bengkelnya bisa maju seperti sekarang karena suntikan dana dari gereja itu.” Kakak melanjutkan kalimatnya, “Eh,… kamu tahu? padahal dulunya Mas Jojo itu mantan santri di kampungnya lho!"

Mataku kembali terbelalak kaget. Heran, nggak habis pikir, sedih, geram.. sekarang semua itu campur aduk di kepalaku.
Dan nasi goreng panas pesananku yang telah terhidang menjadi tak lagi mengundang selera.


Jam 13:05 WIB
Ke Bengkel Mas Jojo

Kakakku yang sedang baik hari ini memboncengku dengan motornya ke Bengkel Mas Jojo. Kebetulan memang sedang ada perlu sama ibu di rumah.
Tapi kok didepan bengkelnya berkerumun orang-orang ya? Ada apa? Lalu lintas menjadi terhambat, sementara kulihat dari jauh bengkel Mas Jojo lengang, tak ada seorangpun yang nampak. Hatiku berdebar, ada apa ini?.

Kami makin mendekati kerumunan orang itu. Katanya baru saja ada tabrakan motor yang keluar dari bengkel dengan mobil angkutan kota. Aku cepat turun dari motor dan berusaha mendekati pusat kerumunan itu.
Mas Jojo setengah berjongkok, memeluk seorang anak. Darah mengucur dari kepala anak itu.
“ Bayu ?!?!!” teriak ku kaget. Anak itu dengan setengah sadar mengulurkan tangannya kearahku.

“Tolong.. Bayu…” katanya lemah, “pengen… syurga…”

Kata-kataku tercekat, pelan.. ku raih tangannya. Pelan-pelan ku ucap kalimat syahadat agar diikuti Bayu. Mas Jojo terus saja menangis, air matanya membasahi pakaian Bayu yang ada dalam dekapannya.

***

Kamis, 20 Januari 2004
Jam 06:25 WIB
Lapangan Sholat Idul Adha

Hari ini aku pergi ke lapangan tempat sholat Idul Adha, melewati Bengkel Mas Jojo, tampak sepi. Ingatanku masih saja terpaku pada kejadian 3 hari yang lalu, tepat didepan bengkel ini.

Ceramah idul adha kali ini, seperti yang sudah-sudah, meceritakan tentang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as. atas putra kecintaannya, Nabi Ismail as.
Selesai ceramah, orang-orang bergegas melipat sajadahnya, demikian pula aku. Tetapi ... ada orang yang menghampiriku dari samping, matanya sembab. Mas Jojo !.

Tak kuasa aku menahan haru. Kami berpelukan erat sambil menangis, tak ada sepatah katapun. Hanya perasaan kami yang berbagi, tentang keharuan kembalinya Mas Jojo kedalam Islam, dan tentang kenangan atas kepergian Bayu yang masih menyisakan duka mendalam.

“Haruskah… hanya dengan kematian Bayu saya menjadi masuk Islam lagi.. ?” bisik Mas Jojo pelan sambil terisak.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Sambil menyeka air mata, mataku menerawang, tiba-tiba terbayang wajah Bayu... tersenyum, indah sekali.

-- o0O0o --

Mas, kami disini sangat rindu kembalimu …


NB. Dalam versi edit, cerpen ini pernah dimuat di Antologi Cerpen IMB "Episode Kelam Feli", MU3 Books, 2005



Blog EntryCinta Nala (Cerpen)Dec 29, '05 3:56 PM
for everyone

Andre benar-benar shock!! Tak menyangka jika kejadianya akan seperti begini. Jantung bawaannya yang lemah membuat dada kirinya sakit dan sesak. Tangan kiri Andre memegangi dada kiri, sementara tangan kanannya masih tetap memegang mouse, mencoba bertahan di depan layar monitor yang berpendar.

“Tidak!, semoga mataku salah! Ini halusinasi kan?!” sergahnya dalam hati, mencoba tuk mendustai apa yang dilihatnya di halaman web internet. Nala, sosok gadis yang dicintainya terpampang di layar itu. Andre memang sudah biasa melihat Nala, yang baru saja naik kelas 3 SMU itu, melakukan banyak pose foto yang lalu dimasukkannya ke salah satu web yang banyak diminati orang muda itu, tetapi ini ?!?! Pose yang begitu menantang setiap laki-laki, bahkan terlalu menantang. Ini foto porno!! Apa yang ada dipikirannya?!?!

Tak kuat Andre memandangi gambar di monitor itu terus menerus. Dadanya semakin sakit, segera ia keluar kamar menuju ruang makan, mencari obat. Tetapi, tinggal beberapa anak tangga lagi yang harus ia turuni, mendadak tubuhnya oleng. Dunia gelap bagi mata Andre, dan badannya yang tinggi kurus itu jatuh ke lantai. Si mbok, pembantu rumah, yang melihat kejadian itu spontan berteriak kaget. Tapi Andre tak lagi dapat mendengarnya.

***

Nala benar-benar shock!! Tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Tangannya hanya bisa menggenggam tangan Andre yang tak sadarkan diri di kamar rumah sakit. Labu infus dan mesin deteksi denyut jantung yang dipasang di pinggir pembaringan membuat keadaan pacarnya itu semakin tampak mengkhawatirkan saja.

“Dre… “ mata Nala berkaca memandangi orang yang ia sayangi terbaring lemah tak bereaksi, roman wajahnya melukiskan kekhawatiran yang sangat.

“Dre… maafin Nala, Dre… “ Tapi Andre tak juga bangun, hanya mesin pendeteksi detak jantung yang memberikan tanda bahwa ia masih hidup.

Nala tak bisa berbuat apa-apa lagi, tangisnya tertahan. Tangannya masih tetap menggenggam tangan Andre yang tak bergerak. Ayah Andre yang sedang mengurusi administrasi rumah sakit telah tiba kembali di kamar, menemukan Nala yang menunggui Andre dengan penuh cemas. Bibirnya sedikit mengulas senyum, “Nala memang anak baik…” pikirnya. Beliau tak tahu penyebab Andre mendapat serangan jantung, yang ia dengar dari Si mbok kalau Andre jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri. Hanya itu.

Nala tak menyadari tatapan mata ayah Andre dibelakangnya. Kilasan-kilasan balik perjalanan hidup Nala ketika bersama Andre melintas begitu saja dibenaknya, membuat Nala semakin merasa bersalah dan kehilangan. Andre begitu baik padanya, begitu perhatian dan pengertian. Baginya, Andre adalah sosok teman dan kakak sekaligus. Ketika orang tua Nala selalu saja tak peduli atau memarahinya, ia selalu lari pada Andre, menceritakan segala keluh kesahnya, segala kekesalannya. Seperti bara api yang dicelupkan kedalam air, lalu padam. Lelaki itu seperti air buat Nala, padahal ia hanya mendengarkan semua cerita Nala dan dengan sedikit komentar,

“Udah La curhatnya?”datar, sambil dengan bibir nyengir.

Spontan Nala jadi kesel dan ingin jitak kepala Andre yang ditumbuhi rambut hitam gondrong. Tapi Nala tak marah, entahlah, ia tidak bisa ngambek pada lelaki ini. Senyum perhatiannya ketika mendengarkan cerita-cerita Nala, wibawa dan sifat ngemong-nya membuat Nala merasa damai.

“Ah Nala.. cuekin aja keluarga mu itu. Ortu macam apa tuh yang selalu nggak peduli pada anaknya? Malah sering memarahi kamu? Udah lah.. hidup terlalu indah untuk dipusingkan sama masalah seperti itu. Kalau mereka cuekin kita, so what gitu loh? Biarlah anjing menggonggong kafilah tetap mengeong.. hehe..”

“Nala bukan kafilah, apalagi kucing!” sungut Nala waktu itu, sebel dengan guyonan Andre. Tapi Nala tahu kalau Andre hanya sekedar ingin menghiburnya.

“Hmm.. lalu perumpamaan apa yang paling tepat?” Andre berlagak menirukan guru bahasa Indonesia yang sedang mikir.

“Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui…” lanjut Andre.

“Emang nyambung ?!” Nala penasaran.

“Nggak!”

“Gubraks!” Sekarang asli, Nala berusaha menjitak si gondrong Andre, tapi lelaki itu berkelit dengan lincah.

“Hehehe… mana bisa kamu menjitak mantan karateka seperti aku” cibir Andre.

“Mana ada karateka penyakitan jantung..” balas Nala tak mau kalah.

Dan Andre hanya tertawa ngakak. Andre memang punya jantung yang lemah. Dalam enam bulan ini sudah dua kali ia pergi ke dokter. Tiap mendengar Andre ke dokter, Nala selalu cemas. Tapi Andre malah cengengesan.

Kemarin siang, seperti biasa, Nala pulang ke rumah. Sebetulnya bukan hari yang biasa buat Nala. Hari itu ia dipanggil guru BP, ditanya mengapa dalam bulan ini sudah bolos lebih dari 3 hari, padahal baru satu bulan tahun ajaran baru dimulai. Dan ujung-ujungnya, seperti yang sudah Nala duga, guru BP memberikan surat undangan, atau tepatnya pemanggilan pada orang tua Nala agar hadir di sekolah, menemui wali kelas dan guru BP. Nala tersenyum, rencana itu akhirnya berhasil juga. Ia memang sengaja bolos tanpa alasan agar orang tuanya dipanggil ke sekolah.

“Mam.. ini surat.. “

“Taro situ.. “ ujar Mami Nala sambil menyungutkan mulutnya kearah meja. Padahal Nala belum menyelesaikan kalimatnya, Mami Nala langsung memotong.

“Tapi Ma,.. ini surat pemanggilan ke sekolah untuk orang tua.. “

“Oo.. “

“Cuma 'ooo..' ?!?!#@#” Nala naik pitam, suaranya meninggi “Mama nggak nanya pemanggilan ini untuk apa?!”

“Kenapa kamu jadi sewot gitu sih?!?!” Mami Nala jadi terpancing juga. “Itu kan surat buat Mami, ya sudah simpan saja disitu! Perkara surat itu surat apa, itu urusan Mami.. nanti mau kesana apa nggak kek itu juga urusan Mami!”.

Mata Nala memerah. Antara menahan marah dan sedih. Tiap kali Maminya marah dan membentaknya, itu membuat hatinya pedih. Seperti disayat-sayat. Tak tahukah Mami kalau Nala sayang sama Mami, tapi mengapa selalu saja Mami acuh tak acuh sama Nala? Mengapa hal kecil saja membuat Mami marah dan membentak-bentak?!. Nala terpukul, rencana yang sudah jauh-jauh hari disusunnya buyar.

Kaki mungilnya cepat-cepat menuju kamar, lalu menutup pintunya dengan keras. Sementara Maminya melihat sejenak ke arah pintu kamar Nala, kemudian kembali membaca majalah gosip kesukaannya. Benar-benar acuh..

Nala menangis dengan tertahan di kamar. Hatinya memang mudah sekali terluka. Segera tangannya meraih handphone, menghubungi Andre. Tapi HP Andre tulalit. Berkali-kali ditekannya tombol redial tetapi tetap saja tidak tersambung. Lagi dimana kamu Dre.. gue lagi bete berat nih.. bisik Nala.

Sejenak ia melirik camera foto digital miliknya yang tergeletak di meja belajar. Entah darimana pikiran jelek itu, tiba-tiba Nala jadi teringat pose-pose erotis bintang Hollywood yang terpampang di salah satu website terkenal. Nala menemukan cara baru untuk menyalurkan amarahnya!

“Jika aku jelek maka orang tuaku juga akan jelek, biar nama mereka tercoreng!” Nala mendendam. Lalu Nala mulai melakukan membuat foto-foto bejat itu. Terbayang dibenaknya wajah Papi dan Mami yang merah padam menahan malu pada kenalan dan relasinya. Nala lupa satu orang yang juga akan sangat terpengaruh pada foto-foto itu: Andre.

***

Sudah sehari dua malam Nala menunggui Andre, lelaki yang cenderung pendiam itu kini benar-benar diam. Mata Nala sayu dan capek, kurang tidur. Makan pun tak lagi menjadi penting baginya. Yang penting adalah Andre siuman dan sembuh. Ruang rumah sakit kelas satu itu lengang, sepi, sesepi satu sudut ruang di hati Nala. Ia benar-benar takut kehilangan Andre.

“Andre banguun doong... “ getar suara Nala lemah ditelinga Andre. Diam-diam di hati Nala terbersit tekad, apapun tebusannya akan ia lakukan untuk kesembuhan Andre, Nala yakin Tuhan mendengar bisik hatinya.

“Dre.. bangun yuk, Nala mau cerita tentang foto-foto itu..” Nala berbisik pelan. Tangan Andre yang masih dalam genggaman Nala tiba-tiba bergerak. Mata Nala membulat, ia terkejut gembira. “Andre?! Kamu denger apa kata Nala?!”. Walau lemah, tapi sepertinya gerakan itu ingin melepaskan genggaman dari tangan Nala.

Nala membiarkan tangan itu, matanya kini tertuju pada bibir Andre yang bergerak-gerak.

“La.. “

“Iya.. Nala disini Dre..”

“Tolong.. jauhi aku.. dulu.. ya.. “

Nala terkejut bukan main, ingin ia berteriak heran pada lelaki yang masih terbaring lemah itu. Tapi urung dilakukannya, ia memang bersalah pada Andre, ia sudah menduganya, karena foto-foto di internet itulah yang membuat Andre terbaring disini. Mata yang tadi berbinar itu kini mulai berkaca-kaca menahan isak.

“Nala ngerti Dre.. Mungkin kamu jijik dekat sama Nala.. Nala ngerti.. Maafin Nala yah.. “ Hampir saja tangis Nala pecah, tapi ia masih coba menahannya. Digenggamnya tangan Andre sebentar, lalu dilepaskan. Segera ia bangkit dan pergi.

“La.. aku.. hanya.. tak bisa.. terima.. ” desah Andre pelan sekali, seperti mencoba berbicara pada dirinya sendiri.

Ayah Andre yang baru saja tiba diluar ruangan, terkejut ketika berpapasan dengan Nala yang seperti sudah menangis.

“Andre tidak apa-apa kok Om.. dia sekarang sudah sadar.. alhamdulillah” Ah Nala, kata-kata islami lagi yang kau gunakan ketika dihadapan ayahnya Andre, agar terlihat seperti anak baik ya? Cari muka lo. Kata hati Nala berontak.

Ayah Andre bergegas ke kamar dan mengucap syukur dengan keras disana, wajahnya begitu berseri bahagia. Andre tersenyum pada ayah yang sangat memperhatikannya itu. Nala yang melihat dibalik jendela ikut tersenyum, kamu punya ayah yang baik dan perhatian Dre.., kehadiran Nala hanya membuatmu susah saja. Lalu ia beranjak pergi, meninggalkan ayah dan anak yang sedang berbagi suka.

***

Waktu telah berlalu hampir satu tahun lamanya setelah kejadian itu. Banyak yang telah berubah. Nala sudah lama pindah sekolah, bahkan pindah propinsi. Papanya marah besar waktu itu. Skandal foto-foto kotor Nala yang dimuat di internet telah menyebar bahkan sampai ke kantor Papa. Pihak sekolah pun memberikan pilihan bagi papa Nala agar memindahkan sekolahnya, karena nama pihak sekolah merasa ikut tercoreng. Akhirnya, Papi Nala “mengasingkan” Nala ke rumah pamannya yang berada cukup jauh dari ibukota. Dipinggiran kota Solo, kota yang cukup adem buat menjernihkan pikiran Nala.

Baru saja ia pulang dari mengikuti ujian untuk menjadi mahasiswi di Universitas Sebelas Maret. Duduk rehat di halaman rumah paman memang adem, membawa hawa damai dihati, begitu goda batin Nala mencoba berpuitis. Seulas senyum melukis bibirnya kini. Beruntung sekali Nala tinggal dirumah adik bungsu papanya ini, walaupun papi dan mami jarang sekali menanyakan kabarnya, tetapi Nala bahagia disini. Pamannya begitu sayang padanya, telah banyak hal yang diajarkan pamannya itu dengan penuh rasa cinta. Inilah rumah yang selama ini dirindukannya. Bukan fisik rumahnya, karena rumah pamannya ini jauh lebih kecil dibandingkan rumahnya di Jakarta. Tetapi atmosfir rumah ini begitu indah.

Dendam dan amarah pada orang tuanya perlahan sirna. Begitupun rasa kehilangannya pada Andre. Walau kerapkali bayangan lelaki pendiam yang dicintainya itu melintas diangannya, tetapi Nala tak lagi terlalu sedih, masih bisa ia menyisakan senyum untuk masa-masa indah bersama Andre. Andre... bagaimana kabarmu sekarang? Pasti kamu sudah mulai menyusun tugas akhir kuliah ya?.. andai kau ada disini.. melihatku telah berubah seperti ini.. ah Nala! Andre Andre melulu! Nala mencoba menepis pikiran-pikiran yang menurutnya konyol itu.

“Assalaamu'alaikum.. “ seorang lelaki muda bertopi mencoba bersikap ramah pada Nala. “Maaf Mbak, apa benar ini rumahnya Pakde... “ Belum sempat orang itu menyebut nama paman Nala, suaranya sudah tercekat, mata lelaki itu terbelalak melihat kearah Nala.

“Na.. la ?!?!”

Nala menyidik siapa lelaki dibalik topi itu. Suaranya sangat familiar di telinga Nala. Ah tak mungkin.. tapi...

“An.. dre...?”sekarang mata Nala yang membulat penuh keterkejutan

“Ini kamu kan?!” Andre masih saja tak mau percaya.

Nala lebih cepat menutup keterkejutannya. Dengan cepat ia mengangguk sembari tersenyum.

“Kamu.. pake jilbab?!?!” Andre masih saja tak bisa mengendalikan keheranannya.

“Emang gak boleh Dre.. ?”

“Beneran nih?! Bukan main-main khan?”

Nala mengangguk lagi dengan mantap. Selukis senyum masih saja menghiasi bibirnya, ia tak bisa menghentikan senyum itu. Senyum yang mekar dari rasa bahagia bertemu Andre setelah selama ini.

Andre tertawa terbahak-bahak. Benar-benar ini diluar perkiraannya. Jauh-jauh ia datang ke Solo ingin melihat lagi gadis manisnya yang dulu coba ia jauhi. Tetapi ternyata gadis itu telah berubah 180 derajat!.

“Ustadzah, bagaimana kabarnya?” goda Andre.

“Alhamdulillah baik Pak Kyai.. “ balas Nala.

Andre tertawa ngakak lagi...

“Ya Allah.. Dre.. jangan ketawa terus gitu dong.. nakutin tetangga ihh..”

“Hehehe... abis aku masih surprise banget!. Bener-bener nggak nyangka!”

Nala masih tersenyum gembira. Sesaat kemudian ia mempersilahkan Andre masuk untuk beristirahat dan mandi. Tapi Andre menolak, ia lebih memilih duduk di bale-bale halaman. Akhirnya kini keduanya duduk bersebelahan dipisahkan meja bundar. Ada gentong kecil air putih di meja itu. Tanpa menunggu ditawari, Andre langsung meminumnya.

“Segaar... “ sahut Andre.

“Ih.. tamu nggak tahu sopan santun!” tegur Nala.

“Oh iya.. maaf Tuan Putri.. “

“Iya.. sekarang Nala harus tahu adab sopan santun. Kan sekarang udah jadi Putri Solo”

“Idihh... nggak banget deh lo”

Sekarang giliran Nala yang tertawa renyah. Tawa itu.. yang selama hampir setahun ini dicari-cari Andre. Dia rindu cerita-cerita Nala, rindu derai tawanya.

“Hmm.. La.. aku jauh-jauh kesini sebenernya mau ngomong serius.. “ mimik muka Andre berubah. Jarang sekali roman wajah Andre menjadi seperti sekarang ini. Nala paham, ini artinya Andre mau berbicara serius.

“Tapi Dre... sebelum kamu ngomong.. Nala boleh bicara duluan nggak?”

“Boleh”

“Dre.. kamu lihat sendiri kan perubahan yang ada didiri Nala. Sekarang Nala sudah berjilbab, begitupun hati Nala, sudah mulai belajar untuk berjilbab..” Nala menarik napas untuk kata-kata berikutnya.

Andre terdiam. Baru kali ini dilihatnya seorang Nala bisa begitu dewasa dalam berbicara.

Nala melanjutkan, “Jadi... “ Nala terdiam sejenak. “Nala tahu hati Andre seperti apa pada Nala. Begitupun Nala, Kamu pasti sudah tahu bagaimana perasaan ini ke kamu. Jadi.. ”. Nala tak menduga, ternyata kata-kata itu, yang telah lama ia persiapkan jika berjumpa kembali dengan Andre, bisa meluncur dari mulutnya begitu saja.

“Hmm.. jadi ?” tak urung Andre jadi penasaran akan kelanjutan omongan Nala.

“Nala sudah menduga kamu bakal balik lagi, kamu kan orangnya dewasa, pasti perbuatan khilaf Nala yang dulu itu akhirnya bisa kamu maklumi. Tapi Nala nggak bisa balik lagi sama kamu Dre.. !”

Nala terdiam beberapa saat, diselidiknya wajah Andre. Tetapi lelaki yang dulu sangat dekat dengannya ini hanya termenung sesaat, entah apa yang ada dipikirannya.

“Mengapa La... ?”

Nala terdiam.. ia menghirup udara yang banyak untuk menguatkan kata-katanya kemudian, “Dre.. sebenarnya.. Perasaan Nala... masih seperti dulu ke kamu.. tapi,..”.

“Tapi ?!”

“Tetapi... Nala sedang belajar untuk lebih mencintai Allah…”

Andre sedikit terkejut dengan jawaban Nala. Terlihat raut muka yang kurang puas dan masih penasaran atas penjelasan Nala.

“Paman mengenalkan Allah pada Nala” Nala melanjutkan, “Allah sangat sayang pada manusia, segala apa yang kita butuhkan Dia berikan, nikmat-Nya begitu melimpah tak terhingga. Lalu mengapa kita tak boleh mencintainya dengan sepenuh hati kita? Malah seringkali lebih mencintai yang lain?” Kini kata-kata Nala terdengar mantap. Keputusannya sudah bulat, walau terasa sangat berat, ia tak akan mengulangi lagi kisah kasihnya dengan Andre.

“Hehehe... “ Andre malah cengengesan. “Aku sudah tahu kok La tentang itu, temanku yang aktivis mesjid pernah menasehatiku tentang hal ini. Katanya dalam Islam, tak ada kasih-kasihan sebelum pernikahan. Dan asal kamu tahu aja La.. aku kesini bukan untuk mengajakmu balik lagi!”.

Nala sejenak tertegun, jadi Andre datang bukan untuk mengajaknya menyambung kembali kisah kasih mereka yang lalu??!. Lalu untuk apa dia datang jauh-jauh kesini?!

Andre tersenyum, ia seperti bisa menangkap penasaran yang ada dibenak Nala. Agak lama kemudian keduanya terdiam. Tiba-tiba Andre memecahkan keheningan.

“La... kita nikah yuk!”

Mata Nala membulat, mulutnya sedikit ternganga. Seolah ia tak percaya apa yang diucapkan Andre barusan.

“La.. kok diem? Aku serius nih!” Andre mengerutkan dahinya agar kesan serius di wajahnya bertambah. “Aku sudah bilang sama papa mama kamu, dan mereka bilang semua terserah kamu”.

Nala tak bisa berkata-kata lagi kini. Hatinya sudah terlalu penuh rasa syukur dan berbunga-bunga. Baru kali ini Nala terlihat bersemu merah dihadapan Andre. Sulit ia tuk membuka mulut, sekedar tuk menjawab pertanyaan Andre, padahal hatinya telah sangat ingin berucap pelan sedari tadi, iya.. aku terserah kamu saja Dre..

***

Tuk seseorang yang tak ku tahu namanya; adukan saja semua pada kasih sayang-Nya ...


NB. Cerpen ke-2 yang diharapkan bisa terbit, ga tau lolos apa kagak :D akhirnya kuedit seadanya lalu ditempel di MP aja dulu ah.. Semoga ada yang mau kasih kritikan.. =)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help