
Jangan harap menemukan review novel yang kemarin sempat menjadi fenomenal itu disini. Maap-maap aje yee..
Aku cuma ingin menuliskan sedikit yang kurasakan ketika membaca novelnya Kang Abik yang pernah dimuat bersambung di Koran Republika dan kemudian diterbitkan oleh koran yang sama ini.
Bandrolnya sih 40 ribu tapi dapet diskon jadi 32 ribu. Kubeli tuk anak kakak sepupuku yang ulang tahun, dan ternyata dia suka - alhamdulillah - padahal anaknya gaul lho.
Lalu darimana aku baca ini novel? Perpus sekolah! dan itupun mencuri-curi waktu ketika jam istirahat.
Tahukah apa yang terjadi ketika aku membacanya? Menangis! Hampir saja wibawaku turun gara-gara ini hehe.. menitikkan air mata gara-gara baca novel di tempat umum?!
please dech!Hatiku gerimis bukan semata karena ceritanya yang banyak kejutan-kejutan dan roman, tapi lebih kapada kondisi Fahri, sang tokoh utama, yang tadinya begitu hidup dalam benakku sewaktu kuliah tingkat awal dulu.
Melanjutkan kuliah di Al-Azhar Kairo, Ummul Qura Mekkah atau Islamic University of Madinah. Waduh! itu kan cita-citaku dulu. Dapet beasiswa, sebagian dikirim ke ibu dan ua di Bandung. Pulang paling 6 bulan atau satu tahun sekali.
Merasakan teriknya gurun, berpusing-pusing belajar Bahasa Al-Qur'an, tahfizh kitab suci dan hadits, ibadah haji gratis, menjadi musafir di negeri para Nabi. Wah.. indah banget gitu lhoh!
Semua surat pengajuan beasiswa sudah kuurus, akte kelahiran, SKKB, ijazah, CV, rekomendasi 2 lembaga Islam beres diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh penterjemah resmi, hue.. lumayan mahal..
Dan, .. akhirnya kabar itu kuterima. Mulai tahun itu lembaga universitas yang bersangkutan tidak lagi menerima lewat jalur rekomendasi lembaga, tetapi lewat test seleksi yang ketat. Waah... hancur hatiku... mana bisa dengan IP pas-pasan bisa lolos? hapalan Qur'an yang jelek, bahasa Arab yang ancur. Andalanku hanya koneksi dari lembaga itu.. hue.. padahal di lembaga Dewan Dakwah aku pun kudu bolak balik, dapet rekomendasinya gak gampang maan... belum lagi di test ngobrol bahasa Arab. Bolak-balik ke kantornya di Bandung, nyari channel lewat temen, bolak-balik pula ke Jakarta, ngabisin duit banyak, mana sendirian lagi. Akhirnya kandas dengan sukses...
Mungkin memang aku yang mudah menyerah hingga akhirnya cita-cita itu gagal, atau mungkin juga karena restu ibu yang berat melepas anaknya pergi jauh. Entahlah.. yang jelas keinginan yang dulu kuat banget itu kini perlahan makin sirna.
Dan Novel itu.. membuat bayangan-bayangan yang dulu kuimpikan kembali terkuak.
Yah.. takdir atau nasib ku tak tahu. Hanya harapku semoga Allah mengampuni jika didalamnya ada khilaf dan kelemahanku yang malah menjauhkan dari-Nya.
Insya Allah suatu hari nanti aku akan disana, menatap gunung berbatu di Mina dari atas atap bis, menapaki jalan setapak Gua Hira, thawaf keliling baitullah.
Mungkin, menikmati panorama sungai Nil, menelusuri Alexandria, bercengkrama dengan mahasiswa di Kedutaan Indonesia.
Terima kasih Kang Abik (hehe.. sok akrab)
Novel yang bagus memang, dan buatku mengembalikan memori indah yang dulu sempat terpatri, tentang rencana hidup dan cita yang tak sempat terwujud.