Bismillah..Dah denger Lokalisasi Prostitusi Saritem ditutup? wah! ini suatu kejadian yang ruaarrr biasaa!
Alhamdulillah.. Bagi yang orang Bandung - yang suka ga kuper tentunya hehe - Kawasan Saritem merupakan icon "kedigjayaan" praktek prostitusi.
Orang dengan mudah melenggang ke tempat -yang konon telah berusia 200 thn- itu tuk sekedar "bermalam" 1 -2 jam tanpa rasa rikuh apalagi takut. Wisata seks lah, anak cowok smu yang kliatannya baek2 juga bisa kepergok disana malem-malem nyari PSK yang anak smu pula, cukup dengan 100-200 ribu rupiah.
Well, itulah gambarannya, keberadaan Pesantren yang sedianya tuk didirikan tuk membendung kebobrokan moral itu tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, malah kebanyakan santrinya berasal dari luar kawasan lokalisasi.
Jangan heran, di daerah itu, praktek asusila sudah sedemikian mendarah daging. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya disana. Tukang kredit yang mencicilkan barang-barang pada para PSK, tukang jual mie instant, rumah makan sederhana buat para hidung belang mengisi perutnya dan lain-lain. Seolah kehidupan amoral yang terjadi disana bukanlah suatu hal yang mesti digugat.
Hebat bukan? suatu komunitas masyarakat dapat memaklumi bahkan menjadikan suatu tindakan haram sebagai penghidupan mereka.
Aku tak mau berpanjang lebar dengan soal berapa pendapatan mereka perbulannya, atau berapa miliar sumbangan "home industri" ini pada kas Pemda.
Hanya saja ingin ikut ngomong, klo kebenaran dan kesalahan yang dianut suatu masyarakat itu tak selamanya menjadi tolak ukur.
Karena kita bagian dari masyarakat itu, maka bisa jadi kita mengikuti tata nilai yang ada tanpa menyadarinya.
Maka, bila kita sudah sedimikian larut, berhijrahlah. Kecuali bila kita yakin seyakin-yakinnya bahwa kita bak ikan yg hidup di tengah lautan yg asin. Tidak akan terbawa asinnya laut.
Yupe! Dengan berhijrah dari lingkungan yang tak baik kepada lingkungan yang baik sangat lebih mudah membuat kita menjadi baik, ketimbang kita berlelah-lelah hidup di lingkungan yang tak kondusif. Kecuali, dan hanya kecuali, kita memang merasa mampu menjadi agen perubah bagi lingkungan tersebut ke arah yang lebih baik.
Sanggup?