Bismillah..Ya ya.. ini memang pic-nya RA. Kartini, beliau lahir tanggal 21 April, bertepatan dengan kelahiran my mom. Karenanya my granpa menamai ibuku "Kartini".
RA. Kartini adalah -konon katanya- pejuang bagi kaumnya para perempuan, lagi pula aku tak begitu mengenal beliau. Sutralah.. yang ku kenal sangat dekat dan ku kagumi bukanlah beliau, tetapi Kartini yang lain. Ibuku sendiri.
Bagiku, beliaulah pejuang itu.
Sejak dari kecil tak mengenal wajah kakek, seorang pejuang Syarikat Islam. Tak pernah merasai kasih ibunya pula, karena keduanya telah meninggal sewaktu beliau masih teramat belia. Hanya kakak-kakaknya saja yang mengurusnya, membawanya mengungsi kesana kemari, dari kota ke kota dan propinsi pada waktu perang kemerdekaan. Hingga akhirnya menetap di Bandung.
Menikah dengan bapak yang seorang TNI, tapi kemudian bapak gugur ketika bertugas. Ibuku tak menyerah membesarkan ke-empat anaknya. Beberapa tahun kemudian kakakku yang masih tingkat-tingkat awal kuliah di UGM menderita leukemia dan meninggal pula. Lalu susul menyusul dengan kakak-kakak dari ibuku, 5 orang paman dan bibi itu meninggalkan kami satu demi satu.
Kehilangan keluarga terdekat tak pernah membuat kita lebih kuat dari sebelumnya, ia hanya meninggalkan luka demi luka. Tetapi kami harus tetap meneruskan hidup, apapun yang terjadi.
Kepedihan yang dirasai ibuku tak hanya itu, anak-anaknya yang tersisa kerap kali mempunyai masalah-masalah, menguras perekonomian, menguras pikiran dan membuat perih luka yang telah ada. Waktu masa-masa itu aku sering melihatnya menangis dalam do'a-do'a malamnya.
Tapi demikianlah ibuku, dibalik segala kelemahannya beliau sangat kuat. Mengurus kami hingga kini.
Sekarang, kakak perempuan ibuku tinggal satu-satunya. Kakinya yang satu telah lumpuh dan teramat lemah tuk berdiri dengan satu kaki yang lain. Di usia ibu yang sudah tua, dia masih saja mengurus kakaknya itu, sambil tak lepas memperhatikan kami, anak-anaknya.
Dan Sabtu petang kemarin kami berkumpul, 3 orang anaknya dan 3 wanita menantunya. Mengadakan ceremonial yg sangat sederhana atas milad beliau yang ke 65.
Maafkan kami ibu, yang belum juga berbudi padamu, apalagi membalas segala peluh dan air matamu. Tak kan pernah bisa.
Hanya Allah, yang Maha Kasih, yang kan membalasnya, yang kan menyayangimu selalu, selamanya. Amien..