Malam mengembunkan angin yang dingin. Kemarau ini memang seringkali membuat kita merindukan selimut tebal. Dan kamu, masih tertawa renyah, walau terkulum, dengan semua pembicaraan kita malam ini. Setelah sekian lama, kamu begitu menikmatinya.
Tersadar aku, apa yang kulakukan selama ini, pengorbanan dan kesungguhan yang berat dan penat. Hingga menghiba-iba aku pada-Nya, agar Dia menguatkan ku tuk meneruskan, menelusuri jalan yang pernah ku petakan padamu, hanya jika memang kamu orang itu.
Biarlah hati ini kuserahkan saja pada-Nya, karena telah luruh dalam hancurnya, lukanya, sakitnya, perihnya, kepasrahannya...
Atau, leraikan saja waktu-waktu dan kenangan kita saat ini juga, andai kamu bukan yang Dia sukai.
Tak lagi peduliku.
Lalu malam itu, terjebak dalam senyum yang indah. Senyum bahagia. Aku tanya kenapa? Apa yang kamu rasa?
Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, hatiku tersenyum.
Cinta tak selalu apa yang kita mau. Ketika dia bahagia dengan apa yang kita berikan. Ketika kau tak sia-sia mempersembahkan apa yang bisa kau berikan, walau itu membuatmu sakit. Sesakit-sakitnya.
Tetapi sekali lagi, kau akan tetap bahagia, karena dia menjadi lebih baik kini, dan bahagia.
Karena kau telah memberikan yang terbaik untuknya.
Inikah cinta ?
Malam semakin dingin. Angin kemarau menerbangkan debu jalan yang kulalui, ketika pulang dari rumahmu.
Cinta memang menakjubkan.
*Catatan seorang ikhwan menjelang pernikahannya. Barakallah Akhi ... :)